TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG
Selasa, 14 Februari 2012
Rabu, 08 Februari 2012
crazy kiyare
Lyrics
Yeah! Sexy
Sexy lady on da floor
keep you coming back for more
Sexy lady on da floor
keep you coming back for more
Chori chori kiya re
Dil yeh dil liya re
Chori chori kiya re
Dil yeh dil liya re
Jadu se jadu kiya re
Kiya re 2
Jaagi soi rahoon
khoi khoi rahoon
uski yadoon mein uske khwaabo mein
jhome jiya re
Crazy Kiya Re 3
kiya re
Crazy Kiya Re 3
o crazy
Crazy Kiya Re
(Na usko pata
Na uski khata
Mein us pe margai
Zara usko bata)2
Dheree dheere ikraar mein
kabhi kabhi intezaar mein
uske hi pyaar mein jhoome jiya re
Crazy Kiya Re 3
ho crazy
(Mein yahan bhi gai
Mein wahan bhi gai
socha pal pal use
Mein jahan bhi gai)2
Din ho ya raat ho
woh mere saath ho
jab uski baat ho
jhoome jiya re
Crazy Kiya Re 3
o crazy
Sexy lady on da floor
keep you coming back for more
Repeat
Selasa, 07 Februari 2012
Kamis, 02 Februari 2012
Mengungkap Misteri Ka’bah
Mengungkap Misteri Ka’bah Yang menggegerkan Nasa, Kota Makkah Adalah Pusat Dari Planet Bumi, Dan Planet Bumi Menggantung Di Area Yang Sangat Gelap Di AngkasaTelah banyak bukti keagungan dan kekuasaan ALLAH Subhana wa Ta’ala yang menyebar di luar angkasa. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Makkah adalah pusat planet bumi. Fakta tersebut juga didukung dan diteliti dalam sebuah penelitian ilmiah, Tatkala Neil Amstrong untuk waktu pertama kalinya yang melakukan perjalan ke luar angkasa dan mengambil gambar dari planet Bumi. Dia berkata “bahwa planet bumi tampak menggantung di suatu area yang sangat gelap, pertanyaannya..lalu siapakah yang menggantung planet bumi tersbut..??
Setelah itu para astronot berikutnya yang kembali melakukan perjalan ke luar angkasa, kembali menganalisa keadaan planet bumi tersebut. Merekapun berpendapat bahwa planet bumi mengeluarkan seperti radiasi yang berpusat dari kota Makkah, lebih tepatnya berasal dari Ka’bah. Dengan secara resmi merekapun mengumumkan berita penemuan itu melalui media internet dalam website maupun situs – situs yang mengupas tentang teknologi, akan tetapi sangat disayangkan setelah 21 hari kemudian website maupun situs tersebut raib dan hilang dari peredaran, sepertinya ada unsure kesengajaan dan alas an yang tersembunyi dibalik penghapusan website terssebut.Yang juga cukup membuat geger para peneliti adalah bahwa radiasi yang berpusat dari Ka’bah tersebut, radiasi yang tampak tersebut bersifat tidak berujung (Infinite), dan hal ini lebih meyakinkan para peneliti tentang radiasi tersebut ketika mereka mengambil fhoto planet mars dan radiasi tersebut tampak masih berlanjut terus menerus. Seolah dalam hal ini, para peneliti Muslim meyakini bahwa radiasi tersebut memiliki suatu karakteristik yang menghubungkan antara ka’bah diplanet bumi dengan ka’bah dari negeri akhirat.
Kemudian para peneliti tersebut melanjutkan lagi penelitian mereka, bahwa ditengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, terdapat suatu area yang di beri nama “Zero Magnetism Area”, yang berarti apabila kita menggunakan kompas pada area tersebut maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak atau berfungsi sama sekali oleh karena daya tarik antara kedua kutub tersebut (utara dan selatan) sama besar kekuatannya.
Hal ini menjadi penyebab bahwa orang-orang yang tinggal di Makkah, dipercaya bahwa mereka cenderung lebih sehat dibanding orang-orang dari Negara yang lain karena kehidupan mereka tidak banyak dipengaruhi oleh kekuatan gravitasi. Dan kerena itulah apabila kita mengelilingi Ka’bah, seolah-olah kita seperti discharge ulang oleh suatu energy misterius entah darimana asalnya dan hal ini adalah merupakan fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah. Dalam penelitian yang lain mengungkapkan bahwa batu yang bernama Hajar Aswad, adalah merupakan batu yang tertua di dunia dan mengapung apabila diletakkan di atas air.
Hajar AswadDalam sebuh Museum di Inggris , terdapat tiga potongan batu tersebut yang berasal dari Ka’bah serta pihak Museum tersebut juga mengatakan bahwa bongkahan-bongkahan batu tersebut bukan berasal dari system tata surya kita.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :
“Hajar Aswad itu diturunkan dari Surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu adamlah yang menjadikannya hitam”
Dengan demikian telah membuktikan bahwa tidak ada keraguan lagi atas apa-apa yang ALLAH Ta’ala turunkan dalam kitabnya yaitu Al Qur’an yang mengandung banyak pengetahuan sains dan modern, demikian pula dengan sunnah – sunnah Rasulullah yang menerangkan atas kalimat-kalimat wahyu dari ALLAH Subhana wa Ta’ala Rabb sekalian alam. Wallahu Ta’ala A’lam
http://tausyah.wordpress.com/
Rabu, 01 Februari 2012
Elegi Kafilah Lumpur
MENIMBANG kata “Lumpur” yang secara lugas dan tegas dipajang sebagai tajuk novel karya Yazid R Passandre ini, sepintas lalu barangkali dapat dibayangkan betapa meluap-meluapnya kekecewaan, sakit-hati, bahkan amuk-amarah ribuan keluarga korban lumpur Lapindo, yang hendak digambarkan pengarang. Namun, dugaan itu ternyata meleset. Novel setebal 471 halaman ini sekadar menukilkan tarikh dan riwayat sejumlah bocah di desa Renokenongo, Porong, Sidoarjo. Akibat semburan lumpur panas yang hampir mustahil dibendung, mereka kehilangan tempat tinggal, arena bermain, dan gedung sekolah, tempat mereka membangun jembatan guna melesat ke masa depan.Adalah Tanur, Senjah, Banjar, Panji, bocah usia sekolah dasar, yang selalu menjadi poros pengisahan, sekaligus menjadi sudut pandang jernih dan tanpa beban, yang digunakan pengarang guna memetakan akibat laten dari sebuah maha-bencana buatan manusia, hingga penduduk enambelas desa di tiga kecamatan harus kehilangan tanah tumpah darah, lahan sawah, dan nyala gairah guna melanjutkan hidup. Betapa tidak? Tengoklah nasib dan peruntungan Daya, janda muda yang tersia-sia selama berbilang tahun, hingga ia harus pontang-panting membanting tulang, bekerja demi menyekolahkan Tanur. Bocah yang merasa yatim─meski ayahnya belum mati─itulah harapan Daya satu-satunya, setelah suaminya pergi tanpa sebab yang dapat dimaklumi, setelah Mak Inah─tetangga baik hati yang sudah dipandangnya sebagai orangtua─dibunuh secara keji, setelah tubuh ranumnya nyaris diperkosa oleh begundal Parto, kaki-tangan Suro, kepala desa yang tak henti-henti membujuk agar Daya berkenan menjual sepetak tanahnya.
Tidak banyak yang berkelakuan manusiawi semenjak kedatangan orang-orang yang hendak mengeruk gas alam di kedalaman tanah Renokenongo. Kalaupun ada itu hanya armarhumah Mak Inah, tetua kampung yang paling teguh pendirian mempertahankan tanahnya, meski akhirnya ia membayar mahal perlawanan itu dengan nyawa. Ada pula Kiai Sola, yang dalam situasi miskin tak terpermanai, berani mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak Renokenongo. Juga ustadz Kasan, mubaligh melarat yang tiada bosan-bosan memompa semangat belajar pada Tanur, Senjah, Banjar, Panji, Sanip dan segenap anak-anak miskin di pinggir kali Porong. Perlawanan lunak (tanpa dukungan siapa-siapa) dari segelintir orang-orang lemah inilah yang selalu hendak dihadang oleh kepala desa Suro, yang telah berhasil menumpuk kekayaan semenjak bersekongkol dengan para pengusaha pengeboran gas alam.
Firasat tentang semburan lumpur panas sejak mula telah disuarakan oleh Mak Inah, bahwa akan datang suatu masa ketika Renokenongo ditenggelamkan oleh danau lumpur, dan oleh karena itu ia meminta pada segenap warga Renokenongo untuk jangan sekali-kali tergiur oleh rayuan muluk Suro dan para begundal peliharaannya. Kepala desa itu tak lebih dari pejabat kemaruk yang diperalat oleh tuan-tuan berduit yang hendak mengeruk keuntungan di kampung mereka. Tersiar pula sejumlah hikayat perihal “naga lumpur” yang bila tersentuh mata bor bakal mengamuk, lalu menyemburkan lumpur panas yang tiada bakal dapat dihentikan hingga wilayah Porong dan sekitar bakal menjadi selat yang memisahkan Surabaya dan Pasuruan. Mitos-mitos semacam itulah yang selalu menjadi duri dalam daging bagi Tanur dan kawan-kawannya.
Sementara itu, Suro dan para kaki-tangannya tak henti-henti bersiasat agar semua orang Renokenongo bersenang hati melepas tanah mereka, lalu hengkang dari permukiman itu. Ustadz Kasan dan Daya difitnah telah melakukan perselingkuhan keji hingga warga mengusirnya dari kampung itu. Tanur meringkuk di kantor polisi lantaran tuduhan palsu sebagai pelaku pembunuhan Mak Inah. Tapi, semua muslihat Suro akhirnya tiada berguna setelah Renokenongo digemparkan oleh peristiwa semburan lumpur panas di salah satu titik pengeboran, dan dalam waktu singkat membuat perkampungan mereka tenggelam. Maka, dengan berat hati mereka harus meninggalkan rumah, sawah, dan segala kenangan tentang kampung halaman. Tanur, Banjar, Panji, Sanip, Daya, Ustadz Kasan menamai iring-iringan pengungsian mereka dengan “Kafilah Lumpur”, rombongan orang-orang yang telah kehilangan tanah tempat lahir, berjalan dengan langkah-langkah berat dan perasaan terhina.
Buku ini sama sekali tidak berpretensi mengungkap data-data perihal jumlah rumah yang tenggelam, harta benda yang tak terselamatkan, tidak pula tentang perdebatan sengit apakah semburan lumpur itu bencana alam atau petaka akibat kelalaian manusia. Pengarang hanya menghidangkan semacam alegori dengan membangun peristiwa-peristiwa sederhana namun ironis, ketika Ustadz Kasan harus berhadapan dengan pertanyaan kanak-kanak Tanur dalam setiap pengajian di musholla. “Apakah pemerentah yang ingkar janji dapat disebut pemerentah munafik?”, “Apakah peraturan-peraturan dari pemimpin munafik tetap harus dipatuhi?” Seolah-olah hendak menyentil tokoh-tokoh terkemuka di sekitar wilayah bencana, yang semestinya turun-tangan memperjuangkan ganti-rugi bagi mereka, tapi entah karena sebab apa, mereka diam dan berpangku tangan. Pertanyaan Tanur muncul ketika beasiswa pendidikan bagi anak-anak miskin Renokenongo dari pemerintah diulur-ulur pencairannya oleh Suro. Lebih parah lagi, kepala desa bahkan menggunakan beasiswa itu sebagai umpan agar Daya menyerah dan mau menjual tanahnya. Begitu pula peristiwa ringan dalam sebuah perlombaan layang-layang di Renokenongo. Tanur dan kawan-kawan membuat layang-layang bertulisan: “antikorupsi” hingga Suro mencak-mencak. Dan, yang paling berkesan adalah peristiwa pengibaran bendera merah-putih setengah tiang di atas tumpukan lumpur, yang lagi-lagi dilakukan oleh anak-anak bau kencur dari kampung yang telah tenggelam itu.
Kehadiran Garin yang tiba-tiba di ujung kisah agaknya mengganggu kompleksitas pengisahan yang telah dirangkai sedemikian ketat dan bulat. Sebagai sosok pahlawan yang mengembalikan anak-anak korban lumpur ke lingkungan sekolah, barangkali tidak ada persoalan. Namun, menghubungkaitkan Garin dengan Daya atas dasar romantika masa lalu, rasanya terlalu dipaksakan, sebab porsi penceritaan sosok Garin di bagian awal hampir tidak ada. Muncul kesan ada mata rantai penceritaan yang terputus. Terlepas dari kejanggalan itu, buku ini adalah novel pertama yang menegaskan panggilan penciptaannya dari malapetaka lumpur Lapindo, atau yang belakangan hendak dialih-istilahkan menjadi “lumpur-Sidoarjo”. Pengarang sedapat-dapatnya berupaya membendakan sebuah peristiwa besar tentang kampung yang telah terbenam untuk selama-lamanya. Kelak bila sudah dewasa, anak-anak korban lumpur Lapindo tentu dapat menziarahi tanah kelahiran mereka dengan mengunjungi “museum kenangan” penuh elegi, yang termonumentasi sedemikian rupa dalam novel ini.
source : DAMHURI MUHAMMAD
Langganan:
Komentar (Atom)